Skip to main content

Posts

Puasa sunnah digabung dengan puasa qada

Assalamualaiku wr. wb.  Bolehkah berpuasa sunah jika masih punya utang puasa Ramadan atau puasa wajib?  Waalaikum salam wr. wb. Dalam kitab al- mausu’ah al fiqhiah hal: 100 juz :18 dijelaskan bahwa para Ulama’ berbeda pendapat tentang Hukum  mengerjakan puasa sunnah, bagi orang yang masih mempunyai tanggungan puasa wajib.  Adapun perbedaan pendapat tersebut sebagai berikut :  1. Imam hambali berpendapat, haram bagi seseorang, mengerjakan puasa sunnah, sebelum ia mengqodo’ puasa wajib terlebih dahulu , meskipun masih ada waktu yang panjang untuk mengqodo’nya . Karena hal ini selaras dengan sabda Nabi  Muhammad saw yang di riwayatkan oleh  Abu hurairah “ barangsiapa mengerjakan puasa sunnah, sedangkan ia masih memiliki tanggunan puasa ramadan, maka puasanya tidak di terima, sampai ia mengqodo’ puasa wajib terlebih dahulu". 2.Sedangkan Imam malik dan imam syafi’i  berpendapat, melakukan puasa Sunnah bagi seseorang yang memiliki tanggungan puasa wajib...

puasa yang harus di-qada, bila seseorang lupa jumlah puasa yang ditinggalkannya

Assalamualaikm Wr. Wb. Berapakah puasa yang harus di-qada, bila seseorang lupa jumlah puasa yang ditinggalkannya ? Waalaikumsalam Wr. Wb. Menurut pendapat Imam Ibn Hajar dan Imam Romli, seseorang yang memiliki tanggungan puasa, sedangkan dia lupa  jumlah puasa yang harus dia qada, maka dia harus mengqada'nya sampai dia yakin bahwa sudah tidak ada lagi tanggungan baginya. Buhyah al-Mustarsyidiin halaman. 20 Imam Ghazali menjelaskan, bahwa awal  hitungan qadhaa'an puasa yang tidak diketahui bilangannya, dimulai dari waktu dia balligh, lalu puasa yang diyakini sudah dikerjakan, tidak perlu dimasukkan dalam hitungan, sehingga dia tinggal mereka-reka bilangan puasa yang masih diragukan.  Cara penghitungan tersebut menitik beratkan kepada keyakinan kita, seberapa banyak qadha'an yang kita miliki. Berlandaskan qaidah fiqih "sebuah perkara yang diyakini sudah terjadi, tidak bisa dihilangkan dengan keraguan". Ihya' Ulumuddin halaman. 35 بغية المسترشدين ص : 36  (مسئلة ك...

Mengqada puasa untuk orang meninggal

Assalamualaikum Wr. Wb. Ada seseorang yang masih mempunyai hutang puasa Ramadan, sebelum meng- qada, ia meninggal dunia. Bisakah ditunaikan/diganti oleh ahli warisnya ? Waalaikumsalam Wr. Wb. Mengqada puasa, wajib bagi orang yang mampu, menurut ketetapan para ulama. Karena berlandaskan Alqu’an surah al baqarah ayat [184] "Barang siapa sakit atau dalam perjalanan lalu ia berbuka, maka wajib baginya berpuasa, sebanyak hari yang ditinggalkannya, pada hari-hari yang lain". Sedangkan untuk orang yang tidak mampu berpuasa, karena sangat tua atau sakit yang tidak ada harapan sembuh. Maka wajib baginya memberi 6 ons beras perhari kepada fakir miskin. Seperti yang dijelaskan dalam Al Qur'an surah Al Baqarah ayat 184. "Dan bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin." Jika yang mempunyai tanggungan qada' sudah meninggal, maka hukumnya masih dirinci: 1. Jika dia tidak memungkinkan untuk menqada' puasa, sebelum men...

Pekerja berat bolehkah tidak berpuasa ?

 Assalamualaikum Wr. Wb. Banyak pekerja berat dan harus berpanas-panasan di tengah terik matahari. Pekerja berat seperti apa yang mendapatkan keringanan untuk tidak berpuasa Ramadan. Dan, bagaimana cara menggantinya. Fidyah apa qada? Waalaikumsalam Wr. Wb. Pekerja berat seperti petani, kuli dll, tidak boleh membatalkan puasa kecuali jika memenuhi enam syarat sebagai berikut: 1. Pekerjaan tersebut tidak bisa diundur sampai bulan Syawal 2. Tidak bisa dikerjakan di malam hari/ jika dikerjakan di malam hari bisa menimbulkan kerugian(rusak). 3. Jika melanjutkan berpuasa bisa menimbulkan bahaya. 4.niat puasa di waktu sahur.  5.Saat membatalkan puasa harus niat tarakhus (mendapatkan keringanan) 6. Tidak boleh menjadikan pekerjaan tersebut sebagai tujuan agar mendapatkan keringanan  dalam berpuasa (boleh mokel). Seperti musafir yang melakukan perjalanan supaya bisa membatalkan puasa maka hukum membatalkannya tidak boleh. Buhyah al-Mustarsyidiin Hal. 234 Pekerja berat yang memenuh...

HUKUM MELUDAH SAAT SHALAT

Pertanyaan :  Bagaimana hukum meludah di dalam sholat? Jawaban :  Jika meludah ke arah depan atau kanan, maka hukumnya makruh. Namun jika meludah ke arah kiri, maka diperbolehkan, dengan catatan tidak melakukan sholat di dalam masjid. Apabila shalat dikerjakan di masjid maka hukumnya haram, jika sampai mengenai bagian masjid.  شرح كا شفة السجا وتاسع عشرها بصق أماما ويمينا لايسارا لخبر الشيخين إذا كان أحدكم في الصلاة فإنه يناجي ربه عز وجل فلا يبزقن بين يديه ولا عن يمينه ولكن عن يساره وهذا في غير المسجد أما فيه فيحرم إن اتصل بشيء من أجزائه بل يبصق في طرف ثوبه من جانبه الأيسر  ويلف بعضه ببعض. Terjemah : Kemakruhan yang ke 19 adalah meludah ke arah depan dan kanan, karena terdapat hadits, “ketika salah satu dari kalian sholat, maka sesungguhnya kalian sedang memohon pada allah, maka hendaklah kalian tidak meludah ke arah depan dan kanan, kecuali ke arah kiri”. Hukum makruh ini, jika sholatnya tidak dilaksanakan di masjid, apabila dilakukan di masjid maka hukumnya haram, ...

HUKUM MENIUP SESUATU DALAM SHOLAT

 Pertanyaan: Bagimana hukum meniup sesuatu di dalam sholat? Jawaban: Hukum meniup dalam salat masih terdapat perbedaan pendapat. 1. Menurut qaul asoh (pendapat yang paling sahih), Jika seseorang meniup sampai menimbulkan suara 2 huruf maka membatalkan shalat, jika tidak, maka tidak membatalkan. 2. Menurut pendapat kedua, meniup tidak membatalkan shalat secara mutlak, karena bukan termasuk ucapan. Referensi: حاشيتا قليوبي - وعميرة [2 /499] ( والأصح أن التنحنح والضحك والبكاء والأنين والنفخ إن ظهر به ) أي بكل مما ذكر ( حرفان بطلت وإلا فلا ) تبطل به ، والثاني لا تبطل به مطلقا لأنه ليس من جنس الكلام . Terjemah: menurut pendapat yang lebih shahih tertawa, menangis, merintih dan meniup bisa membatalkan sholat, jika sampai menimbulkan suara 2 huruf. Jika tidak, maka tidak membatalkan. Menurut pendapat kedua, tertawa dan seterusnya tidak membatalkan shalat secara mutlak, karena bukan termasuk ucapan.
  MENGAJAK ANAK KECIL BERJAMAAH DI MASJID Pertanyaan: Bagaimana hukum mengajak anak kecil berjama'ah di masjid? Jawaban: Sunnah jika anak tersebut sudah tamyiz dan bertujuan untuk mengajarinya. Dan makruh jika hanya untuk bermain-main, bahkan tidak diperbolehkan apabila berpotensi menimbulkan tasywisy (mengganggu orang salat), tanjis (menajiskan masjid) dan hal-hal yang dilarang lainnya. اسنى المطالب الجزء الثانى ص:451 قال والد الناشري : سئلت عن تعليم الصبيان في جناح المسجد فأجبت بأنه أمر حسن والصبيان يدخلون المسجد على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم وإلى الآن من غير نكير والقول بكراهة دخول الصبيان المسجد ليس على إطلاقه بل يختص بمن لا تمييز له وبحاله لا طاعة فيها ولا حاجة إليها وإلا فأجر التعليم قد يزيد على نقصان الأجر بكراهة الدخول أليس أن الضبة الصغيرة إذا كانت لزينة كرهت وإن كانت لحاجة ارتفعت الكراهة ومن هذا القبيل أن النبي صلى الله عليه وسلم فعل المكروه لبيان الجواز  لقاءات الباب المفتوح الجزء الخامس والعشرون ومائة صحـ 8 حكم اصطحاب الأطفال إلى المساجد السؤال فضيلة الشيخ م...

Menjawab Adzan

  MENJAWAB ADZAN Pertanyaan:  Bagaimana hukum menjawab adzan yang terdengar berkali-kali dalam waktu yang sama? Jawaban: Dalam permasalahan ini terdapat khilaf: Harus menjawab semua adzan Cukup menjawab satu adzan saja. شرح بلوغ المرام لعطية سالم (44/ 6، بترقيم الشاملة آليا) ترديد الأذان لمن سمع مؤذنين في وقت واحد وهنا مباحث فقهية: إذا كنت تسمع أذاناً واحداً فإنك تقول مثل ما يقول وتخرج من العهدة، وإذا كان هناك أذانان، سواءً في مسجد واحد يأذنان معاً أو متواليين أو في عدة مساجد وتسمع أذان كل مسجد عقب الأخر هل تكتفي بإجابة المؤذن الأول فقط أو تردد مع كل مؤذن الأذان كل ما سمعت ذلك؟ يوجد قاعدة أصولية: إذا تعدد السبب هل يأتي المسبب أم لا؟ هناك حالتان: - حالة يتعين فيها الإتيان بالمسبب في كل مرة .وحالة يجزئ فيها مرةً واحده. Penjelasan ibarah: Apabila kita mendengar satu adzan, maka kita dianjurkan untuk menjawabnya, supaya terlepas dari tanggungan. Jika adzan dikumandangkan berulang-ulang dari satu masjid atau beberapa masjid yang berbeda, maka ada dua pendapat: ulama pertama mengata...

MENGUMPULKAN NIAT PUASA RAMADAN PADA MALAM PERTAMA

 MENGUMPULKAN NIAT PUASA RAMADAN PADA MALAM PERTAMA Pertanyaan: Bagaimana hukum mengumpulkan niat puasa Ramadan sebulan penuh pada malam pertama?  JAWABAN: Hukum niat puasa sebulan penuh pada malam pertama bulan ramadan adalah sunnah. Sedangkan hukum niat puasa setelah hari pertama, ulama berbeda pendapat: 1. Menurut madzhab syafi'iyah niat puasa untuk sebulan penuh hanya cukup untuk puasa satu hari, sehingga setiap puasa pada bulan Ramadan wajib diniati. 2. Sedangkan menurut imam Malik niat puasa Ramadan untuk sebulan penuh sudah mencukupi, sehingga untuk hari-hari berikutnya tidak wajib niat kembali. Seperti penjelasan yang terdapat dalam kitab attaqrirat assadidah halaman 440. Referensi :  التقريرات السديدة في مسائل المفيدة ص : 440 وتجب النية لكل يوم لأن كل يوم عبادة مستقلة ولا تكفي نية واحدة لكل الشهر على المعتمد ولكن تسن, وفيها فائدتان : الأولى صحة صوم يوم نسي تبييت النية فيه على مذهب الإمام مالك, والثانية أخذه الأجر كاملا لو مات قبل تمام الشهرا عتبارا بنيته. ...

Memakai mukenah dengan dagu terbuka

  Memakai mukenah dengan dagu terbuka  Pertanyaan : Bagaimana hukum memakai mukena dengan dagu terbuka dalam salat bagi perempuan? Jawaban :  Dalam madzhab Syafii tidak ada pendapat yang memperbolehkan perempuan membuka anggota di bawah dagu. Namun imam-imam yang lain banyak yang memperbolehkannya. Oleh sebab itu, salatnya orang awam dengan dagu terbuka tetap dihukumi sah, seperti penjelasan yang akan dijelaskan sebagai berikut.   قرة العين بفتاوى إسماعيل زين ص 52 إن انكشاف ما تحت الذقن من بدن المرأة في حال الصلاة والطواف يضر فيكون مبطلا للصلاة وللطواف وذلك لأنه داخل في عموم كلامهم فيما يجب ستره فقولهم عورة الحرة في الصلاة جميع بدنها إلا الوجه والكفين يفيد ذلك لأمور منها الاستثناء فإنه معيار العموم ومنها قولهم يجب عليها أن تستر جزءا من الوجه من جميع الجوانب ليتحقق به كمال الستر لما عداه فظهر بذلك أن كشف ذلك يضر ويعتبر مبطلا للصلاة ومثلها الطواف هذا مذهب سادتنا الشافعية وأما عند غيرهم كالسادة الحنفية والسادة المالكية فإن ما تحت الذقن ونحوه لا يعد كشفه من المرأة م...

MENGQODHO' SALAT ORANG MENINGGAL

MENGQODHO’ SALAT ORANG MENINGGAL Pertanyaan : Bagaimana hukum mengqodho’ salat untuk orang  meninggal ? Jawaban : Dalam permasalahan ini terjadi khilaf dalam kalangan madzhab Syafi’iyah. Seperti yang dijelaskan dalam kitab I’anah At-thalibin  juz : 1 hal. 33 إعانة الطالبين - (ج 1 / ص 33)  (فائدة) من مات وعليه صلاة فلا قضاء ولا فدية. وفي قول - كجمع مجتهدين - أنها تقضى عنه لخبر البخاري وغيره، ومن ثم اختاره جمع من أئمتنا، وفعل به السبكي عن بعض أقاربه. ونقل ابن برهان عن القديم أنه يلزم الولي إن خلف تركة أن يصلى عنه، كالصوم. وفي وجه - عليه كثيرون من أصحابنا - أنه يطعم عن كل صلاة مدا. Penjelasan ibarah: barang siapa yang meninggal sedangkan dia memiliki tanggungan salat, maka para ulama berbeda pendapat dalam menanggapinya.  Menurut pendapat yang pertama, bagi wali/keluarga tidak diharuskan mengqodho’ atau membayar fidyah untuk salat yang ditinggalkan oleh mayyit.  Menurut pendapat yang kedua, berlandasan pada hadist imam Bukhari dan yang lain, bahwa salat yang ditinggalk...