Assalamualaikum Wr. Wb.
Banyak pekerja berat dan harus berpanas-panasan di tengah terik matahari. Pekerja berat seperti apa yang mendapatkan keringanan untuk tidak berpuasa Ramadan. Dan, bagaimana cara menggantinya. Fidyah apa qada?
Waalaikumsalam Wr. Wb.
Pekerja berat seperti petani, kuli dll, tidak boleh membatalkan puasa kecuali jika memenuhi enam syarat sebagai berikut:
1. Pekerjaan tersebut tidak bisa diundur sampai bulan Syawal
2. Tidak bisa dikerjakan di malam hari/ jika dikerjakan di malam hari bisa menimbulkan kerugian(rusak).
3. Jika melanjutkan berpuasa bisa menimbulkan bahaya.
4.niat puasa di waktu sahur.
5.Saat membatalkan puasa harus niat tarakhus (mendapatkan keringanan)
6. Tidak boleh menjadikan pekerjaan tersebut sebagai tujuan agar mendapatkan keringanan dalam berpuasa (boleh mokel). Seperti musafir yang melakukan perjalanan supaya bisa membatalkan puasa maka hukum membatalkannya tidak boleh. Buhyah al-Mustarsyidiin Hal. 234
Pekerja berat yang memenuhi syarat diatas lalu dia membatalkan puasanya maka wajib baginya mengqodho' setelah bulan Ramadhan. Seperti yang dijelaskan di dalam surah Al Baqarah ayat 185. dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan lalu ia berbuka, maka wajib baginya berpuasa, sebanyak hari yang ditinggalkannya, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.
Dari ayat tersebut, Syaikh An Nawawi Al-Bantani menjelaskan bahwa seorang pekerja berat disamakan dengan orang yang sakit. Nihayatu Az-Zain halaman 188.
Dari penjelasan diatas, terdapat penjelasan ulama(jika seseorang yang membatalkan puasa tidak memenuhi syarat yang telah disebutkan maka baginya dosa besar, berdasarkan hadits" barang siapa yang membatalkan puasa dengan tanpa udzur maka tidak cukup baginya puasa satu tahun").Buhyah al-Mustarsyidiin Hal. 234
[ Buhyah alMustarsyidiin Hal. 234 ]. Ibarohnya :
مسألة) : لا يجوز الفطر لنحو الحصاد وجذاذ النخل والحراث إلا إن اجتمعت فيه الشروط. وحاصلها كما يعلم من كلامهم ستة : أن لا يمكن تأخير العمل إلى شوّال ، وأن يتعذر العمل ليلاً ، أو لم يغنه ذلك فيؤدي إلى تلفه أو نقصه نقصاً لا يتغابن به ، وأن يشق عليه الصوم مشقة لا تحتمل عادة بأن تبيح التيمم أو الجلوس في الفرض خلافاً لابن حجر ، وأن ينوي ليلاً ويصحب صائماً فلا يفطر إلا عند وجود العذر ، وأن ينوي الترخص بالفطر ليمتاز الفطر المباح عن غيره ، كمريض أراد الفطر للمرض فلا بد أن ينوي بفطره الرخصة أيضاً ، وأن لا يقصد ذلك العمل وتكليف نفسه لمحض الترخص بالفطر وإلا امتنع ، كمسافر قصد بسفره مجرد الرخصة ، فحيث وجدت هذه الشروط أبيح الفطر ، سواء كان لنفسه أو لغيره وإن لم يتعين ووجد غيره ، وإن فقد شرط أثم إثماً عظيماً ووجب نهيه وتعزيره لما ورد أن : "من أفطر يوماً من رمضان بغير عذر لم يغنه عنه صوم الدهر".
Comments
Post a Comment