SANTRI ITU MAKHLUK APA ? |
E-book |
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata santri mengandung dua makna, arti pertama adalah orang yang mendalami agama islam, dan yang ke-dua orang yang beribadah dengan sungguh-sungguh atau orang saleh. Istilah santri selama ini digunakan untuk menyebut kaum atau orang-orang yang sedang atau pernah memperdalam ajaran agama islam di Pondok Pesantren. Kata “Pesantren” inilah oleh sebagian kalangan diyakini sebagai asal-usul terciptanya istilah santri.
Mendengar kata santri sudah pasti tidak asing lagi ditelinga kita, bahwasanya santri itu adalah orang yang berpeci, bersarung dan berbaju koko. Tidak hanya itu sering kali orang berspekulasi bahwa santri itu rajin ibadah, mengaji dll. Padahal sesuai dengan kenyataan yang ada tidak semua santri seperti itu. Apalagi pada zaman sekarang ini yang bisa juga disebut Zaman Android. Mulai bangun tidur sampai bangun lagi pasti tidak lepas dengan yang namanya handphone, mau ini lihat handphone, kesana bawa handphone. Sholat saja kalau tidak mendengar iqamah tidak mau segera berjama’ah. Lalu, apakah itu yang dinamakan santri ?
Menurut penulis sosok santri tidaklah sesempit itu, tidak hanya orang yang berpeci atau bersarung saja buktinya banyak diluar sana yang juga berpeci dan bersarung tapi tidak rajin dalam beribadah. Apakah mereka juga dikatakan santri. Atau preman-preman, pencuri yang bertaubat kemudian mendadak rajin ibadah, apakah mereka juga hendak disebut sebagai santri.
Bagi penulis seorang santri ialah orang yang berpikir luas seluas samudera, sedalam Jurang Jeru, setinggi langit diangkasa terbang melintasinya layaknya burung yang sudah mampu hidup mandiri meninggalkan sarang tempat dimana dia dilahirkan, namun tetap berpegang teguh pada iman dan taqwa.
Sebagaimana yang telah disampaikan oleh guru kita Al-Marhum Al-Maghfurlah KH. Moh. Hasan Abdel Bar “Otak amerika, namun hati tetap Mekah Madinah”. Artinya apa, kita boleh bergaya atau berpikir apapun selagi tidak melanggar syari’at. Mau bergaya ala Korea silahkan, ala amerika silahkan yang terpenting hati kita tetap Mekah Madinah. Beliau juga pernah berpesan “Jadi santri itu tidak harus alim dalam bidang agama saja tapi berbagai aspek yang tercakup ilmu didalamnya kalau bisa juga kita alimi atau kuasai”. Ditambah dengan Satlogi Santri itu sendiri yang berupa : Sopan santun, Ajeg (istikamah), Nasihat, Taqwallah, Ridhallah dan Ikhlas lillahi ta’ala. Menurut penulis istilah santri bisa diplesetkan menjadi santuyen tapi rajin ibadah. Itulah menurut penulis sosok santri yang sesungguhnya. Memang kalau dipikir-pikir sulit rasanya untuk menjadi sosok santri seperti itu. Tapi, kalau kita mau dan berusaha pasti bisa karena keberhasilan itu berawal dari kemauan. Seperti yang disampaikan oleh Al-Marhum Al-Maghfurlah KH. Hasyim Mino “Mon tak kelar keng tak terro”. Maksudnya apa, kalau engkau sudah menginginkan sesuatu pasti engkau akan mengusahakan sekuat tenaga meski jiwa raga yang menjadi taruhannya.
Al-Ustadz Ubaidillah Al-Kazrakaz pernah berkata “ Santri itu identik dengan nyentrik namun menarik, dengan kemasan yang minimalis namun isi yang optimalis." Dari maqolah ini kita bisa mengambil pelajaran bahwa santri tidak mudah dan gampang terprovokasi dari baju/kemasan, santri itu tidak boleh tergesa-gesa dalam berpendapat tanpa mengkaji terlebih dahulu. Intinya santri itu sami'na wa analisa wa atho'na.
Sebab itu, hendaknya kita tidak menilai orang dari kemasan nya saja. Dalam hadist riwayat Muslim Nomor 2564 disebutkan, dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk rupa dan harta kalian. Akan tetapi, Allah hanyalah melihat pada hati dan amalan kalian.”
Gudang Garam yang isinya ternyata bukan garam dan toples Kong Guan yang berisi rengginang atau jamudin. Pesan terakhir untuk para santri “Badan boleh terkurung tapi jiwa dan raga tebang sebebas-bebasnya” (R.A. Kartini ).
Penulis : Nur Alam ( siswa kelas IV MDM)
Pewarta : Ahmad Fauzi
Badrus Sholeh
Editor. : Bilal
Layouter : BarArt
Comments
Post a Comment