Sudah
tidak asing lagi bagi kalangan santri dengan yang namanya Alfiyah,
sebuah nadzhom yang mengandung 1002 bait serta mengulas lengkap masalah
ilmu nahwu dan shorrof, bahkan nadhzom tersebut menjadi kajian wajib di
sebagian Pondok Pesantren, termasuk Pondok tercinta Kita ini. Telah kita ketahui
di pondok ini, Alfiyah adalah salah satu nadhzom yang wajib di
hafalkan, tentunya pasti butuh energi super untuk menghafalnya.
Kali ini kami akan menyinggung sedikit keunggulan ilmu nahwu
dari ilmu yang lain, dikisahkan dalam kitab Tausyeh Ala Ibni Qasim :
وهذه المسألة هي التي سأل عنها أبو يوسف
صاحب أبي حنيفة الكسائي إمام أهل الكوفة حين ادعى أن من تبحر في علم اهتدى به إلى سائر
العلوم، فقال له أبو يوسف: أنت إمام في النحو والأدب، فهل تهتدي إلى الفقه؟ فقال: سل
ما شئت. فقال: لو سجد سجود السهو ثلاثا هل يسجد ثانيا؟ قال: لا، لأن المصغر لا يصغر.
ومعنى كونه لايصغر أنه لايزاد سجدتان ثانيا كما ان عميرا تصغير عمر لايصغر ثانيا اي
لا يزاد عليه حرف أخر بعد زياذة حرف التصغير. ثم قال الكسائي لأبي يوسف إذا قال لزوجته
إن دخلت الدار فأنت طالق بكسر الهمزة فمتى يقع الطلاق ؟ قال أبو يوسف وقت دخول الدار فقال الكسائي لو قال
لها أن دخلت الدار فأنت طالق فمتى يقع الطلاق؟ قال أبو يوسف كذلك قال أخطأت بل وقع
حالا لأن أن حرف إستقبال دخلت على فعل ماض فلما إجتمعا صار حالا.
Di
suatu saat ketika Imam Kisa’i (إمام كسائي) mencetuskan statement : “Barang
siapa yang mengusai satu bidang ilmu, maka ia akan mendapatkan ilmu yang lain”.
Statement ini terdengar aneh, sehingga Imam Abu Yusuf bertanya pada beliau (Imam
Kisa’i). Tentu hal ini membuat Imam Kisa’i yang concern dalam bidang nahwu
tertarik untuk berdialog dengan Imam Abu Yusuf. Akhirnya terjadilah perdebatan seru antara
beliau berdua :
Abu Yusuf : “Yaa Imam, engkau salah satu pangeran ilmu
nahwu dan adab, apakah kau juga bisa menjawab masalah fiqih dengan teori ilmumu
?.”
Imam Kisa’i : “Silahkan tanyakan apa yang anda mau ?.”
Abu Yusuf : “Kalau semisal sujud sahwi ( sujud
karena lupa mengerjakan kewajiban berupa rukun atau lupa tidak mengerjakan sunah
tab’id ) tiga kali, apakah mau sujud sahwi lagi ?.”
Imam kisa’i : “Jangan, karena suatu yang sudah kecil(تصغير) jangan di perkecil lagi, sama dengan lafadعُمَيْرٌ tasghir dari lafad عُمَرٌ, jadi tidak perlu di tambah huruf lagi pada lafad عُمَيْرٌ .”
Setelah jawaban jenius beliau sudah di anggap memuaskan oleh
Abu Yusuf, akhirnya beliau (Imam Kisa’i) yang sekarang bertanya:
Imam Kasa’i : “Wahai Abu Yusuf, kalau semisal si suami
berkata pada istrinya إن دخلت الدار فأنت طالق, lantas kapan terjadinya talaq
?.”
Abu Yusuf : “Tentu pada saat si istri masuk rumah.”
Imam kasa’i : “Ohh begitu, sekarang kalau semisal suami
tadi berkata أن دخلت الدار فأنت طالق, lantas kapan talaq terjadi
?.”
Abu Yusuf : “Tentu sama seperti tadi,
pada saat si istri masuk rumah.”
Imam kasa’i : “Engkau salah, sesungguhnya
talaq telah terjadi seketika itu.”
Abu Yusuf: “Bagaimana hal itu bisa
terjadi ?.”
Imam kasa’i : “Jadi begini, أن adalah huruf zaman mustaqbal dan ketika أن bertemu dengan fi’il madhi maka otomatis fi’il tersebut akan bermakna Haal.”
Dan akhirnya cerita
perdebatan beliau telah usai. Ini menandakan bahwa statement dari Imam
Kisa’i nyata adanya dan terbukti kebenarannya. Sebab itu, teman-teman santri
tidak usah merasa gengsi ketika bertemu dengan para pakar ilmu fiqih misalnya,
karena tidak menutup kemungkinan santri Zahanain yang hanya hafal Alfiyah
bisa menekuk lutut pendapat orang lain dengan teori Alfiyahnya. Ilmu nahwu
diibaratkan oleh Ustadz tercinta kami bahwasannya : ”Nahwu itu laksana
jembatan. Kita mungkin tidak akan pernah sampai pada tepian sana, kalau kita
tidak punya jembatan.”
SO!!! BE SPIRIT TO MEMORIZING ALFIYAH 1002 BAIT
Penulis :
Febri Hafidzul Ahkam, siswa kelas III Madrasah Diniyah Muallimin
Editor :
Ust. Bilal
Lay out :
Ust. Ahmad Saifuddin
Comments
Post a Comment