Skip to main content

Urgensi Nasionalisme Untuk Menuju Indonesia Bermartabat

 



Bulan Agustus merupakan bulannya bangsa Indonesia. Bulan yang sangat bersejarah, tepatnya pada tanggal 17 Agustus yang mana pada tanggal tersebut pada tahun 1945 Bung Karno membacakan Teks Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.

Pada akhirnya setiap 17 Agustus, rakyat Indonesia mengadakan perayaan pengibaran Sang Saka Merah Putih yang bertujuan untuk mensyukuri nikmat kemerdekaaan, mempererat persatuan bangsa, mengenang jasa para pahlawan dan sebagai bentuk cinta tanah air. Perayaan semacam ini tentu tdak dilarang oleh agama, selama dalam pelaksanaannya tidak dengan cara-cara yang dilarang agama. Demi menghindari kesalah pahaman, perlu dipahami terlebih dahulu pengertian kata nasionalisme.

Nasionalisme berasal dari kata nation yang berarti bangsa. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata bangsa mempunyai beberapa arti :

Kesatuan orang bersamaan asal keturunan, adat, bahasa dan sejarahnya serta berperintahan sendiri.

Golongan manusia, binatang atau tumbuh-tumbuhan yang mempunyai asal-usul yang sama dan sifat khas yang sama atau bersamaan.

Kumpulan manusia yang biasanya terikat karena kesatuan bahasa dan kebudayaan dalam artian umum, dan biasanya menempati wilayah tertentu dimuka bumi. (Lukman Ali. Dkk., Kamus Besar Bahasa Indonesia,  Jakarta, Balai Pustaka, 1994 Hal. 98)

Istilah nasionalisme yang telah diserap kedalam bahasa indonesia memiliki dua pengertian :

Paham (ajaran) untuk mencintai bangsa dan negara sendiri.

Kesadaran keanggotaan dalam suatu bangsa yang secara potensial atau aktual bersama-sama mencapai, mempertahankan dan mengabdikan identitas, integritas, kemakmuran dan kekuatan bangsa.

Disini perlu kiranya kita ketengahkan pemikiran ulama dalam memaknai nasionalisme, agar tidak salah dalam mengaplikasikannya.

Ahli tafsir kontemporer Syekh Muhammad Mahmud Al-Hijazi pada QS. At-Taubah ayat 122

وما كان المؤمنون لينفروا كافة فلولا نفر من كل فرقة منهم طائفة ليتفقهوا في الدين ولينذروا قومهم إذا رجعوا إليهم لعلهم يحذرون

Artinya : “Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu pergi (ke medan perang)Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya. ”(QS. At-Taubah : 122). Setelah menjelaskan ayat diatas dalam kitab Tafsir Al-Wadlih-nya, beliau melanjutkan : 

وتشير الأية إلى أن تعلم العلم أمر واجب على الأمة جميعا وجوبا لا يقل عن وجوب الجهاد والدفاع عن الوطن واجب مقدس, فإن الوطن يحتاج إلى من يناضل عنه بالسيف وإلى من يناضل عنه بالحجة والبرهان, بل إن تقوية الروح المعنوية وعرس الوطنية وحب التضحية وخلق جيل يرى أن حب الوطن من الإيمان وأن الدفاع عنه واجب مقدس. هذا أساس بناء الأمة ودعامة استقلالها.

Artinya : “ayat tersebut mengisyaratkan bahwa menuntut ilmu merupakan  kewajiban bagi seluruh umat, kewajiban yang tidak kalah penting dari kewajiban jihad, dan mempertahankan tanah air juga merupakan kewajiban yang suci. Karena tanah air membutuhkan orang yang berjuang dengan pedang (senjata) dan juga orang yang berjuang dengan argumentasi dan dalil. Bahkan memperkokoh moralitas jiwa, menanamkan nasionalisme, suka berkorban, mencetak generasi yang berwawasan “cinta tanah air sebagian dari iman” dan mempertahankan tanah air adalah kewajiban yang suci. Inilah pondasi bangunan umat dan pilar kemerdekaan mereka.” (Muhammad Mahmud Al-Hijazi, Tafsir Al-Wadlih, Beirut, Dar Al-Jil, Al-Jadid, 1413 H, Juz 2, Hal. 30)

Syekh Muhammad Syakir salah satu ulama Aleksandria, Mesir dalam kitab Washaya Al-Abaa’ Lil Abnaa’ mengatakan :

واتق الله في بلدك لا تخنه ولا تسلط عليه عدوا

Artinya : “(Wahai anakku) bertakwalah kepada Allah dalam bernegara, jangan engkau khianati negaramu dan jangan engkau pasrahkan urusan negaramu pada musuh.” (Muhammad Syakir, Washaya Al-Abaa’ Lil Abnaa’, Toko Kitab Imam Surabaya, Hal. 8)

Bisa ditarik kesimpulan, bahwa untuk menuju Indonesia bermartabat yang disegani dimata dunia. Maka setiap warga negara harus mempunyai dan menanamkan rasa serta jiwa nasionalisme kepada bangsanya. Hal ini lebih ditekankan kepada generasi muda, karena dipundak merekalah masa depan Indonesia dipertaruhkan.

Beberapa sikap atau perilaku nasionalisme yang perlu dimiliki setiap warga negara ialah mematuhi hukum negara, melestarikan budaya dan melakukan aksi nyata membela negara baik dengan senjata atau profesi yang digeluti. Sebagai pemungkas, sahabat umar RA. pernah berkata :

لولا حب الوطن لخرب بلد السوء فبحب الأوطان عمرت البلدان

Artinya : “Andai bukan karena cinta tanah air, niscaya akan rusak negeri yang buruk, maka sebab cinta tanah air-lah negeri-negeri termakmurkan.” (Ismail Haqqi Al-Hanafi, Ruh Al-Bayan, Dar Al-Fikr, Juz 6, Hal. 442).



Penulis.  : Miftahul Ulum

Pewarta : Ahmad Fauzi

                  Badrus Sholeh

Editor.    : Bilal

Layouter : Abdil Arif




Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

THE OTHER SIDE OF ALFIYAH

                Sudah tidak asing lagi bagi kalangan santri dengan yang namanya Alfiyah , sebuah nadzhom yang mengandung 1002 bait serta mengulas lengkap masalah ilmu nahwu dan shorrof, bahkan nadhzom tersebut menjadi kajian wajib di sebagian Pondok Pesantren, termasuk Pondok tercinta Kita ini. Telah kita ketahui di pondok ini, Alfiyah adalah salah satu nadhzom yang wajib di hafalkan, tentunya pasti butuh energi super untuk menghafalnya. Kali ini kami akan menyinggung sedikit keunggulan ilmu nahwu dari ilmu yang lain, dikisahkan dalam kitab Tausyeh Ala Ibni Qasim : وهذه المسألة هي التي سأل عنها أبو يوسف صاحب أبي حنيفة الكسائي إمام أهل الكوفة حين ادعى أن من تبحر في علم اهتدى به إلى سائر العلوم، فقال له أبو يوسف: أنت إمام في النحو والأدب، فهل تهتدي إلى الفقه؟ فقال: سل ما شئت. فقال: لو سجد سجود السهو ثلاثا هل يسجد ثانيا؟ قال: لا، لأن المصغر لا يصغر. ومعنى كونه لايصغر أنه لايزاد سجدتان ثانيا كما ان عميرا تصغير عم...

Santri itu Mahkluk Apa ?

  SANTRI ITU MAKHLUK APA ? E-book   Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata santri mengandung dua makna, arti pertama adalah orang yang mendalami agama islam, dan yang ke-dua orang yang beribadah dengan sungguh-sungguh atau orang saleh. Istilah santri selama ini digunakan untuk menyebut kaum atau orang-orang yang sedang atau pernah memperdalam ajaran agama islam di Pondok Pesantren. Kata “Pesantren” inilah oleh sebagian kalangan diyakini sebagai asal-usul terciptanya istilah santri. Mendengar kata santri sudah pasti tidak asing lagi ditelinga kita, bahwasanya santri itu adalah orang yang berpeci, bersarung dan berbaju koko. Tidak hanya itu sering kali orang berspekulasi bahwa santri itu rajin ibadah, mengaji dll. Padahal sesuai dengan kenyataan yang ada tidak semua santri seperti itu. Apalagi pada zaman sekarang ini yang bisa juga disebut Zaman Android. Mulai bangun tidur sampai bangun lagi pasti tidak lepas dengan yang namanya handphone, mau ini lihat handphone,...

PUISI

Jeritan Haluan Kiri Oleh : Sholahul Amal SEANDAINYA ,,, Fanatik setingkat buta Kata pembodohan terdengar di mana-mana Mengkritik dinilai kekirian  Patuh konstitusi disebut sayap kanan Di era baru... Apa mau mu ?!!!!! Padahal komunis sudah hidup sengsara Ideologi nya hilang entah kemana Negara sudah tidak mungkin di tata secara fasis Warga tidak lagi diperlakukan dengan bengis Ide-ide bebas sekian lama tidak disuarakan  Gerakan reformasi terbungkam ketakutan Tapi mengapa fitnah komunis masih berkoar ??? Suka menuduh komunis pada lawan yang tidak sepemikiran Menilai sama antara komunis dan atheis Mengaku agamis,,,kelakuannya menduakan tuhan Dasar !!! wajah agamis bernafaskan atheis.* Persimpangan kiri jalan, 18 september 2021 Sang Cipta Benih Oleh: Mula Ragil Apa kabar kau dengan tunasmu Sudah besar berkembang Atau mulai goyah  Tertawan udara kepung wilayah ................ Kuatlah kau akar Kokohlah sang dahan Jangkaulah sorga kau ranting Tebarlah harap indah kau daun Moga ...