Warga net digemparkan oleh video proses pemakaman pria obesitas dengan berat 300 kg. Dari cuplikan video yang beredar, terlihat jelas jenazah diantar menggunakan kendaraan menuju TPU, lalu diturunkan dengan menggunakan katrol, dan tidak dihadapkan ke arah kiblat.
pertanyaan :
Sebenarnya, bagaimana menurut pandangan fikih atas proses pemakaman tersebut?
jawaban :
Menyikapi kasus diatas, perlu diketahui bahwa dalam proses penguburan jenazah terdapat beberapa tatacara seperti, proses penurunan jenazah harus dilakukan oleh tiga atau empat orang. Supaya tetap bisa menjaga kemuliaan mayyit. Oleh kerena itu, makruh hukumnya membawa mayyit dengan menggunakan kendaraan dan sebagainya, karena dihawatirkan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Dapat dipahami dari penjelasan diatas, bahwa mengantar jenazah dengan menggunakan kendaraan (dabbah) hukumnya makruh. Karena cara tersebut menyerupai dengan membawa barang, sehingga dapat merendahkan kemuliaan mayyit, dan juga hal tersebut dapat menghilangkan Fadhilah kesunnahan mengantar jenazah dengan cara dipikul yang telah menjadi Sunnah nabi.
Kemudian, mengenai hukum mengubur jenazah dengan posisi tidak menghadap kiblat, para ulama berbeda pendapat. Menurut mayoritas ulama Syafi'iyah hukumnya haram. Sehingga jika jenazah dikubur demikian, maka wajib digali kembali untuk dihadapkan ke arah kiblat, selama jasadnya tidak membusuk. Sedangkan menurut Imam Al Qadhi Abi Thoyyib dalam kitab "Al Mujarrad" menghadapkan jenazah ke arah kiblat hukumnya sunnah. Begitu juga hukum menggalinya, jika mayyit tidak menghadap ke arah kiblat.
Catatan :Perkhilafan(perbedaan pendapat) di atas, terjadi antara qoul shohih dan muqobil shohih, untuk mengamalkan pendapat muqobil shohih, imam ahmad bin salamah abu al-‘abbas, syihabuddin al-qulyubi dalam kitab “hasyiyah al-qulyubi wal ‘umayroh” menjelaskan bahwa berhujjah pada pendapat muqobil shohih diperbolehkan.
Referensi:
مختصر المزني (8/ 131)
(قَالَ الشَّافِعِيُّ) : وَرُوِيَ «عَنْ رَسُولِ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - أَنَّهُ حَمَلَ فِي جِنَازَةِ سَعْدِ بْنِ مُعَاذٍ بَيْنَ الْعَمُودَيْنِ» وَعَنْ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ أَنَّهُ حَمَلَ سَرِيرَ ابْنِ عَوْفٍ بَيْنَ الْعَمُودَيْنِ عَلَى كَاهِلِهِ وَأَنَّ عُثْمَانَ حَمَلَ بَيْنَ عَمُودَيْ سَرِيرِ أُمِّهِ فَلَمْ يُفَارِقْهُ حَتَّى وُضِعَ وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّهُ حَمَلَ بَيْنَ عَمُودَيْ سَرِيرِ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ وَأَنَّ ابْنَ الزُّبَيْرِ حَمَلَ بَيْنَ عَمُودَيْ سَرِيرِ الْمِسْوَرِ.
فتاوى دار الإفتاء المصرية (5/ 468، بترقيم الشاملة آليا)
والموافق للسنة هو حمل الميت على أعناق الرجال كما هو المتعارف بين المسلمين من من الصدر الأول إلى اليوم، أما حمله على دابة أو غيرها من أدوات الحمل فمكروه، لأن فيه تشبيها للأموات بالأمتعة وهو مناف لإكرامهم، ولا ينبغى أن يصار إلى هذا المكروه رفقا بالمشيعين الأحياء الذين لا يقومون بحمل الميت - نعم إن كان البعد شاسعا والمشقة عظيمة كما لو كان الميت فى مصر الجديدة والدفن فى قرافة الإمام الشافعى رضى الله عنه فإنه يسوغ حمل الميت فى هذه الحالة على أداة من أدوات الحمل لذلك العذر.
روضة الطالبين وعمدة المفتين (2/ 134(
كَذَا قَطَعَ بِهِ الْجُمْهُورُ. قَالُوا: فَلَوْ دُفِنَ مُسْتَدْبِرًا أَوْ مُسْتَلْقِيًا، نُبِشَ وَوُجِّهَ إِلَى الْقِبْلَةِ مَا لَمْ يَتَغَيَّرْ، فَإِنْ تَغَيَّرَ، لَمْ يُنْبَشْ. وَقَالَ الْقَاضِي أَبُو الطَّيِّبِ فِي كِتَابِهِ (الْمُجَرَّدِ) : التَّوْجِيهُ إِلَى الْقِبْلَةِ سُنَّةٌ، فَلَوْ تُرِكَ اسْتُحِبَّ أَنْ يُنْبَشَ وَيُوَجَّهَ، وَلَا يَجِبُ.
Comments
Post a Comment