Waktu terus berjalan dan
musim silih berganti layaknya kehidupan manusia yang manis dan terkadang juga
pahit. Namun, tidak dengan sejarah bangsa negeri kita ini. Peristiwa-peristiwa
yang telah terjadi sebelum era pembebasan itu tidak akan pernah terkikis oleh
zaman dan haruslah selalu tertanam dalam jiwa kita. Dimana keringat, air mata
dan bahkan darah yang turut menjadi saksi perjuangan sebuah bangsa untuk negerinya demi tercapainya sebuah cita-cita yang mulia
ialah kemerdekaan. Karena kemerdekaan bukanlah hal yang turun begitu saja
atau ada hanya secara kebetulan. Namun, pertanyaannya siapakah sebenarnya
tokoh-tokoh di balik kemerdekaan yang telah kita rasakan manisnya sampai hari
ini? Seperti apa perjuangan
mereka dan atas dasar apa mereka melakukan perjuangan hingga berdarah-darah
untuk sebuah kemerdekaan yang mereka
cita-citakan untuk negerinya?
Tepat pada 1511 M, Sejak saat pertama kali imperialisme barat menginjakkan kaki di
tanah nusantara Indonesia untuk melaksanakan misi penjajahan. Namun, usaha penjajahan
mereka dapat terhentikan oleh pasukan Fatahillah. Sebuah pasukan militer santri
yang di pimpin oleh Sunan Gunung Jati
atau Syarif Hidayatullah, salah seorang wali dari Wali Songo berhasil
menggagalkan
usaha penjajahan yang di lakukan oleh kerajaan Katolik
Portugis
di Pelabuhan Kelapa atau Sunda Kelapa. Kemudian demi melambangkan rasa syukur
atas kemenangannya itu di bangunlah nama Jayakarta 22 juni 1527 M atau 22
ramadhan 933 H yang di angkat dari al-qur’an surah 48:1, inna fatahna laka
fathan mubina. Makna Fathan Mubina adalah kemenangan paripurna atau Jayakarta.
Yang di kemudian hari lebih di kenal dengan sebutan Jakarta. Mengapa mereka tidak di lawan oleh kekuasaan politik Buddha Sriwijaya dan Hindu Majapahit. Karena pada saat
penjajah barat tiba di Nusantara Indonesia,
keduanya sudah tiada. Peran sejarah mereka telah
berakhir. Akibatnya, penjajah barat dengan politik kristenisasinya yang
mencoba menjajah Nusantara
Indonesia berhadapan dengan ulama dan santri,
serta sultan yang berjuang mempertahankan kedaulatan agama Islam,
bangsa dan negara. Oleh karena itu, sejarawan barat menyebutnya sebagai Santri
Insurrection “Perlawanan Santri”. Namun, kisah heroik
para Wali Songo ini banyak tidak tertulis dalam buku sejarah, mereka lebih
terdengar dengan kisah dongengnya saja.
Demikian pula dengan ideologi Pancasila dan Konstitusi
Undang-Undang Dasar Negara 1945, perumus pertama setelah proklamasi 17 Agustus
1945 M, Jum’at Legi, 9 Ramadhan 1364 H ialah ulama: KH. Wachid Hasjim dari Nahdlatul
Ulama, Ki Bagoes Hadikoesoemo dan Mr. Kasman Singodimedjo, keduanya dari Persyarikatan
Muhammadiyah bersama pemimpin islam lainnya, yaitu Mohammad Teoekoe Hasan dari
Aceh. Hasil
perumusannya di laporkan ke Drs. Muhammad Hatta. Kemudian diserahkan untuk
disahkan oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia pada 18 Agustus 1945, Sabtu Pahing, 10
Ramadhan 1945.
Mungkinkah dasar negara dalam Undang-Undang
Dasar 1945, terumuskan menjadi negara berdasar ketuhanan yang maha esa,
dan ditempatkan pada Bab XI pasal 29 yang berjudul Agama, jika perumus pertama
setelah proklamasi bukan ulama. Ternyata karena ulama maka bangsa dan nusantara
Indonesia memiliki Ideologi Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara 1945.
Perjuangan dakwah ulama atau Wali Songo di nusantara Indonesia ini tidak hanya sekedar mengislamkan bangsa
negeri ini. Melainkan juga menjadi pelopor nasionalisme dan membangkitkan kesadaran
politik umat, membangun sekitar 40 kekuasaan politik islam atau kesultanannya.
Tidaklah heran jika peran perjuangan ulama dan
santri telah melahirkan proklamasi, 17 Agustus 1945 M, Jum’at Legi, 9 Ramadhan 1364 H. Proklamasi bertepatan di bulan Ramadhan
sebagai bulan puluhan rahmat Allah yang maha
kuasa. Sebelum sang Proklamator Ir. Soekarno
membacakan proklamasinya, ia terlebih dahulu meminta restu dari beberapa ulama
terkemuka di tanah Jawa Timur,
Jawa Tengah,
dan Jawa Barat.
Mungkinkah proklamasi 17 Agustus 1945 M, Jum’at
Legi, 9 Ramadhan 1364 H dapat di tuliskan dan di bacakan oleh proklamator jika
tanpa ulama dan santri sebagai pengawal garda terdepan kemerdekaan Indonesia? Untuk
itulah, di depan Monumen Nasional, di simbolkan perjuangan santri dan ulama,
dengan membangun patung Pangeran Diponegoro yang sedang memacu kuda, sekaligus
merupakan lambang dinamika dan mobilitas ulama dan santri dalam perjuangannya
membebaskan nusantara Indonesia dari segenap bentuk-bentuk penjajahan.
Disisi lain, pemerintah Republik Indonesia juga masih sempat membangun tiga buah masjid
sebagai monumen mahakarya perjuangan ulama dan santri dalam perannya menegakkan
kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pertama, di ibu kota RI Yogyakarta
di bangun Masjid Syuhada, pertanda Republik Indonesia menjadi merdeka karena
pengorbanan harta dan jiwa para Syuhada. Kedua, hanya karena perjuangan para
pemakmur masjid, menjadikan Indonesia istiqlal atau Indonesia merdeka,
maka kemudian di bangunlah Masjid Istiqlal di ibukota Republik
Indonesia, Jakarta. Ketiga, indonesia sebagai negara tumpah tanah rahim ibu,
maka di bangunlah Masjid Baiturrahim di depan Istana Merdeka.
Oleh karena itu, merupakan sebuah kewajiban
sebagai warga negara sebagai wujud cinta tanah air “nasionalisme” dan suatu
semangat untuk menegakkan kebenaran dan melenyapkan segala bentuk kemungkaran
dengan jalan yang telah ditentukan oleh Allah, meskipun harus dengan jalan
perang, karena islam merupakan simbol
nasionalisme Indonesia, yang artinya gerakan
cinta agama, bangsa dan negara serta
anti imperialisme. Kemudian lahirlah statement Resolusi Jihad KH.
Hasyim Asy’ari :
حُبُّ اْلوَطَنِ مِنَ اْلإِيْمَانِ
Artinya : “Mencintai negara merupakan bagian
dari iman”. Dan dalam kisah Al-Baqarah ayat 126, Allah SWT. berfirman :
وَاِذْ
قَالَ اِبْرَاهِيْمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا بَلَدًا أَمِنًا
Aritnya : Dan (ingatlah), ketika Ibrahim AS.
Berdo’a: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman sentosa.” (Al-Baqarah : 126)
Jadi, jika gerakan perlawanan terhadap imperialisme
di nusantara Indonesia disebut sebagai gerakan nasionalisme, maka ulama dan santrilah
sebagai pelaku utama dan pelopor pembangkit kesadaran nasionalisme di nusantara
Indonesia. Oleh karena itu, tepatlah kesimpulan yang di katakan oleh E.F.E. Douwes
Dekker Danoedirdjo Setiaboedhi dari Indische Partij :
Djika tidak karena sikap dan semangat perjoeangan
para oelama, soedah lama patriotisme di kalangan bangsa kita mengalami kemoesnahan.
Penulis :
Hadi Wirawan
Pewarta : Ahmad Fauzi
Badrus Sholeh
Editor :
Bilal
Layouter : Abdil Arif

Comments
Post a Comment