Skip to main content

PENGABDIAN di TANAH RANTAU


PENGABDIAN DI TANAH RANTAU

Oleh : Ust. Sadidil Itqon


Tak terasa Pondok Pesantren tercinta kita sudah berusia 21 th. Yang mana pondok ini semakin tahun semakin maju, semakin lama semakin berkembang dan santrinya melonjak yang membutuhkan bangunan yang ber-tonggak.


Uniknya, pondok kita tidak menggunakan brosur-brosur sebagai promosi dan poster-poster sebagai pengenal diri, akan tetapi cukup dengan membuktikan dengan kualitas santri dan alumni yang menonjol dalam berbagai bidang seperti, bahasa asing dan kajian kitab klasik yang asik.


Penulis sedikit ingin bercerita dan berbagi terkait guru bantu, menurut sepengalaman penulis, menjadi guru bantu tidaklah se-enak bayangan dulu saat masih sekolah, menjadi guru bantu itu ada susah senang, pahit dan manisnya, mengapa begitu ? iya , jika hanya dipandang dari segi fasilitas, semua sudah memadai dan lengkap dari tempat tidur empuk, lauk pauk yang menumpuk, mandi tanpa harus mengantri bertumpuk-tumpuk, namun, terlepas dari itu semua ada yang harus lebih diperhatikan dan dijaga yaitu nama, iya nama,,,pertama, nama kiyai, nama pondok, dan label santri yang kita sandang. Namun, jangan terlalu dibawa sedih apalagi menganggap pedih, ini semua hanya proses, proses mencapai peribadatan selaras dengan penciptaan kita, sebagai mana Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:


وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ والْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

"Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku."

(QS. Az-Zariyat 51: Ayat 56)


Jadi, kenyamanan fasilitas jangan sampai melupakan apa yang harus kita perhatikan dan jaga, karena semua ini merupakan amanah, pengabdian, dan balasan untuk pondok yang telah memberi kita ilmu hingga seperti saat ini, patut bahkan wajib kiranya kita mulai berfikir seperti itu.


Sepengalaman penulis, intinya dalam menjalani apapun di dunia ini, termasuk menjadi guru bantu itu harus sabar, sabar, dan sabar dalam menghadapi tantangan dan juga bisa kita ambil hikmah di balik semua itu. Syaikh Dr. Muhammad bin Ismail Zain Al - Yamani pernah berkata dan ini yang menjadi slogan pesantren-pesantren pada umumnya, sebagai berikut :


العلم بالتعلم و البركة بالخدمة والمنفعة بالطاعة


Ilmu pengetahuan bisa dicapai dengan belajar dan mengaji, barokah bisa dicapai dengan kita berdedikasi kepada guru dan manfaat ilmu bisa kita capai dengan cara patuh pada guru.


Nah, itu perlu kita ingat sebagai santri dan perlu kita tanamkan dalam hati, agar kita tidak hanya menjadi orang yang berilmu, tapi kita juga harus memberi manfaat dari ilmu, dan semuanya tidak bisa kita capai kecuali dengan Khidmah ( dedikasi,ngabdi ), dalam arti kita harus rela menjadi budak dari seorang guru, karena sejati murid layaknya mayyit dihadapan orang yang memandikannya sebagai mana dawuh ibnu hajar Al - Haitami dalam kitabnya, berikut : 


يتعين عليه الاستمساك بهديه والدخول تحت جميع أوامره ونواهيه ورسومه حتى يصير كالميِّت بين يدي الغاسل ، يقلبه كيف شاء 


  “Seharusnya murid berpegangan kepada petunjuk gurunya, tunduk patuh atas segala perintah, larangan dan garis-garisnya, sehingga seperti mayit di hadapan orang yang memandikan, ia berhak dibolak-balik sesuka hati.” (Syekh Ibnu hajar al-Haitami, al-Fatawi al-Haditsiyyah, juz 1, hal. 56).


Susah senang menjadi guru bantu itu berbeda-beda, memiliki cerita hitam putih berbeda, pesan kesan berbeda, pengalaman yang berbeda, dan pengetahuan baru yang juga berbeda.


Menjadi guru bantu itu harus memegang 3 prinsip, hal ini pernah disampaikan oleh guru saya pada saat masih belajar di pesantren Zahanain tercinta, beliau pernah memberi prinsip hidup pada kami,

 " hidup itu cukup 3 bekal saja, yaitu, Sadar tempat, sadar waktu, dan sadar diri, jika itu kamu pegang, insyaallah hidupmu tenang dan senang " . Memang benar, dalam mengarungi abu-abu kehidupan, setidaknya memegang 3 prinsip itu, karena setiap tempat memiliki aturan, budaya, dan kebiasaan yang cenderung berbeda-beda, ada yang A, B, dan C, ada juga yang ABC, bahkan ada yang ABCD, ya begitulah realita kehidupan yang tak bisa di pungkiri apalagi dimusuhi.


Dari itu, untuk teman-teman seperjuangan pandai-pandailah mencari cela untuk bersyukur, mengkondisikan diri, dan mencari hikmah dibalik awan kelabu kehidupan, jangan mudah terprovokasi perkataan masyarakat yang tidak ber-faidah yang kiranya tidak membangun kepada kualitas diri, cukup jalani pengabdian ini dengan ikhlas, cerdas, dan pas.


Yang terakhir...

Selama masa pengabdian penulis di tanah rantau, banyak sekali hikmah dan pelajaran yang penulis dapatkan, seperti bertambahnya mandiri, dewasa, belajar bermasyarakat, bersosial, dan menjadi imam shalat, yang biasanya di pondok paling anti.


Jadi, hidup sebenarnya do'a yang panjang dan pelajaran yang perlu kita amati, teliti, dan berhati-hati, karena semua mengandung arti yang tak bisa hanya dengan mata akan tetapi harus melibatkan hati.

SELAMAT BERJUANG, BERKHIDMAH, SEMANGAT JANGAN PERNAH BERKHIANAT



Refrensi :

(QS. Az-Zariyat 51: Ayat 56)

(Syekh Ibnu hajar al-Haitami, al-Fatawi al-Haditsiyyah, juz 1, hal. 56)



Penulis :

Ust. Sadidil Itqon

Edito :

Ust. Bilal

Layouter :

Ust. Saifuddin

 

Comments

Popular posts from this blog

MENGUMPULKAN NIAT PUASA RAMADAN PADA MALAM PERTAMA

 MENGUMPULKAN NIAT PUASA RAMADAN PADA MALAM PERTAMA Pertanyaan: Bagaimana hukum mengumpulkan niat puasa Ramadan sebulan penuh pada malam pertama?  JAWABAN: Hukum niat puasa sebulan penuh pada malam pertama bulan ramadan adalah sunnah. Sedangkan hukum niat puasa setelah hari pertama, ulama berbeda pendapat: 1. Menurut madzhab syafi'iyah niat puasa untuk sebulan penuh hanya cukup untuk puasa satu hari, sehingga setiap puasa pada bulan Ramadan wajib diniati. 2. Sedangkan menurut imam Malik niat puasa Ramadan untuk sebulan penuh sudah mencukupi, sehingga untuk hari-hari berikutnya tidak wajib niat kembali. Seperti penjelasan yang terdapat dalam kitab attaqrirat assadidah halaman 440. Referensi :  التقريرات السديدة في مسائل المفيدة ص : 440 وتجب النية لكل يوم لأن كل يوم عبادة مستقلة ولا تكفي نية واحدة لكل الشهر على المعتمد ولكن تسن, وفيها فائدتان : الأولى صحة صوم يوم نسي تبييت النية فيه على مذهب الإمام مالك, والثانية أخذه الأجر كاملا لو مات قبل تمام الشهرا عتبارا بنيته. ...

PUISI

Jeritan Haluan Kiri Oleh : Sholahul Amal SEANDAINYA ,,, Fanatik setingkat buta Kata pembodohan terdengar di mana-mana Mengkritik dinilai kekirian  Patuh konstitusi disebut sayap kanan Di era baru... Apa mau mu ?!!!!! Padahal komunis sudah hidup sengsara Ideologi nya hilang entah kemana Negara sudah tidak mungkin di tata secara fasis Warga tidak lagi diperlakukan dengan bengis Ide-ide bebas sekian lama tidak disuarakan  Gerakan reformasi terbungkam ketakutan Tapi mengapa fitnah komunis masih berkoar ??? Suka menuduh komunis pada lawan yang tidak sepemikiran Menilai sama antara komunis dan atheis Mengaku agamis,,,kelakuannya menduakan tuhan Dasar !!! wajah agamis bernafaskan atheis.* Persimpangan kiri jalan, 18 september 2021 Sang Cipta Benih Oleh: Mula Ragil Apa kabar kau dengan tunasmu Sudah besar berkembang Atau mulai goyah  Tertawan udara kepung wilayah ................ Kuatlah kau akar Kokohlah sang dahan Jangkaulah sorga kau ranting Tebarlah harap indah kau daun Moga ...

MENGIKUTI IMAM YANG LUPA ROKAAT SHOLAT

Pertanyaan : bagaimana tindakan yang benar bagi makmum, ketika mendapati imam menambah rakaat? Jawaban : Apabila makmum mendapati imam menambah raka'at dalam shalat, maka tidak boleh baginya mengikuti raka’at yang ditambah oleh  imam, dan hal tersebut bisa menyebabkan shalatnya batal. Karena dianggap bermain-main dalam shalat.  Akan tetapi, jika makmum tidak  sadar bahwa imam telah menambah rakaat, lalu dia mengikutinya, maka hukum sholatnya tidak batal.  Referensi: فرع) لو قام إمامه لزيادة، كخامسة، ولو سهوا، لم يجز له متابعته، ولو مسبوقا أو شاكا في ركعة، بل يفارقه، ويسلم، أو ينتظره - على المعتمد -. [البكري الدمياطي، إعانة الطالبين على حل ألفاظ فتح المعين، ٥٠/٢] (قوله: لو قام إمامه لزيادة) أي على صلاته. (قوله:كخامسة) تمثيل للزيادة. (قوله: ولو سهوا) أي ولو قام حال كونه ساهيا بأن صلاته قد كملت. (قوله: لم يجز له متابعته) أي لم يجز للمأموم أن يتابعه في الركعة الزائدة، فإن تابعه بطلت صلاته لتلاعبه، ومحله إن كان المأموم عالما بالزيادة، فإن كان جاهلا بها وتابعه فيها لم تبطل...