Skip to main content

SEJARAH ILMU ALAT


ASAL-USUL ILMU NAHWU


Ilmu Nahwu merupakan suatu disiplin ilmu yang menjadi alat utama bagi pendidikan pesantren  terutama di pondok salaf,  yang kerap di pelajari mulai dari kelas bawah sampai kelas tinggi. Ilmu Nahwu sangat penting sekali karena dengan mempelajarinya, santri bisa membaca aksara botak ( kitab gundulan, tidak berharakat), tentu saja dengan dibantu ilmu Shorof, yang dicetuskan pertama kali oleh Mu’ad bin Muslim Al-Harro’, Ilmu Shorrof juga bisa di sebut sebagai “Ibu seluruh Ilmu”(أُم العلوم ) karena ilmu shorrof menyerupai Ibu dalam melahirkan, tujuannya: Ibu melahirkan anak, demikian juga Shorrof melahirkan kalimat, sehingga Ilmu-ilmu yang lain membutuhkan Shorrof sebagaimana butuhnya anak pada Ibunya. Ilmu Nahwu sering disebut sebagai ilmu alat, dan juga bisa di sebut “bapak seluruh ilmu” (أب العلوم ), karena ilmu nahwu menyerupai bapak dalam hal mendidik baik pada anak-anaknya, demikian juga ilmu Nahwu yang berperan  membuat baik pada kalimat-kalimat, lafad-lafad Arab dan juga menjadi alat perantara menuju disiplin ilmu lain seperti Fiqh, Tasawwuf, Tafsir dll. Maka dari itu, ilmu nahwu biasanya dipelajari pertama kali oleh santri sebelum mempelajari disiplin ilmuan yang lain.


Pencetus Ilmu Nahwu adalah Abu al-Aswad ad-Duali (ابو الأسود الدؤلى). Beliau lahir di kota Kuffah lalu tinggal di kota Bashrah dan meninggal di sana. Dua kota tersebut sekarang ada di negara Irak. Beliau menjadi orang pertama yang mencetuskan ilmu nahwu atas perintah Sayyidina Ali karramallahu wajhahu.


Semua bermula ketika Abu al-Aswad ad-duali bersama putrinya di teras rumah sembari menikmati pemandangan langit yang gelap dengan bintang-bintang yang menghiasinya. Lalu putrinya tersebut bermaksud untuk memuji keindahan pemandangan langit itu. Berkatalah sang putri kepada ayahnya:


Putri: يا أبت ما أحسنُ السماءِ (Yaa abati, maa ahsanus samaai)


Sebagai catatan, arti dari perkataan tersebut adalah “Wahai Ayahku, Apa yang paling indah dari langit?”. Padahal yang dimaksud adalah kata-kata takjub “Wahai Ayahku, betapa indahnya langit itu” dengan bahasa yang benar ( ما أحسنَ السماءَ ) “Maa ahsana as-sama’a“, bukan pertanyaan seperti tadi (ما أحسنُ السماءِ )“Maa ahsanu as-sama’i“. Lantas saja Ayahnya menjawab.


Ayah: “Indahnya langit adalah bintang-bintangnya.”


Putri: “Wahai Ayahku, bukan seperti itu yang ku maksud. Melainkan yang ku maksud adalah ketakjubanku akan keindahan langit!”.


Dari sini Ayahnya mulai paham lalu ia membenarkan dan menasehati putrinya.


Ayah: “Ucapkanlah maa ahsanas samaa a (ما أحسنَ السماءَ) dengan membaca fathah.”


Lalu keesokan harinya Abu al-Aswad menemui Sayyidina Ali karamallahu wajhahu guna melaporkan kejadian semalam. Lalu terjadilah percakapan di antara keduanya.


Abu al-Aswad: “Wahai Amir al-Mu’minin, telah terjadi pada putriku suatu hal yang tidak aku mengerti mungkin engkau bisa memberi jalan keluarnya”


Kemudian Abu al-Aswad menceritakan kejadian semalam bersama putrinya. Kemudian Sayyidina Ali pun menjawab.


Ali: “Ketahuilah Wahai Abu al-Aswad, semua itu terjadi karena bercampurnya orang ‘ajam (non-arab) dengan orang arab.“


Lalu Sayyidina Ali menyuruh Abu al-Aswad untuk membeli kertas. Selang beberapa hari kemudian, beliau mengajarkan Abu al-Aswad pembagian-pembagian kalam, bahwasanya kalam itu ada isim, fi’il, dan huruf. Sayyidina Ali juga mengajarkan kepadanya kalimat-kalimat dari bab ta’ajub.


Ilmu Nahwu pun kian berkembang setelah itu, banyak ulama’ yang mengajarkannya hingga terdapat dua madzhab di dalamnya, yakni madzhab kuffah dan bashrah. Semakin meluasnya daerah kekuasaan Islam maka semakin besar pula kebersinggungan orang arab dan ajam sehingga menuntut agar ilmu nahwu bisa dipelajari oleh orang banyak. Tak heran, banyak kitab-kitab ilmu nahwu yang dikarang oleh orang non-arab (ajam) seperti al-Ajrumiyyah (jurumiyyah) yang dikarang oleh  Abu Abdillah Muhammad bin Muhammad bin Dawud Al-Shinhâji (Maroko) dan Alfiyyah Ibn Malik oleh Muhammad Ibn Abdillah Ibn Malik (Andalusia)


Dibalik Penamaan Ilmu Nahwu dan untuk mempelajarinya serta tujuan dan faidahnya


Lantas mengapa ilmu nahwu disebut nahwu? Tak lain dan tak bukan, karena isyarat dari Sayyidina Ali yang berkata kepada Abu al-Aswad “Samakanlah contoh ini Wahai Abu al-Aswad (انح هذا النحو يا أبا الأسود)”. Yang dimaksud adalah agar membuat contoh-contoh lain yang sama dengan contoh yang sudah diberikan. Lantas kata nahwu tersebut lah yang diambil sebagai nama ilmu ini sebagai bentuk tabarruk kepada Sayyidina Ali karramallahu wajhahu.

hukum mempelajari ilmu nahwu wajib kifayah, karena ilmu nahwu merupakan washilah (perantara) untuk memahami al-quran dan al-hadits. Tujuan dan faidah  Ilmu Nahwu untuk mengetahui benar salahnya kalam arab dan membantu dalam memahami al-quran dan al-hadits yang bisa mengantarkan kebahagian di dunia dan akhirat.

Begitulah ulasan ringkas mengenai sejarah asal mula Ilmu Nahwu, seterusnya ilmu Nahwu berkembang dengan adanya ulama’-ulama’ selanjutnya, yang memegang tongkat estafet  meneruskan dan mempelopori perkembangan ilmu tersebut dan dituangkan di dalam berbagai kitab. Beberapa kitab yang membahas ilmu nahwu adalah al-Jurumiyah, al-‘Imrithi, dan Alfiyah Ibnu Malik. Kitab-kitab tersebut kerap ditemui dan dipelajari oleh para santri di pondok pesantren. Masih banyak lagi kitab-kitab lainnya yang membahas ilmu Nahwu seperti Jazariyah, Jami’ ad-Durus al-‘Arabiyah, al-Kannasy, Kitab Sibawaihi dll. 


Referensi :

Hasyiyah As - Shoban juz 1 hal. 24

Attashreh 'Ala At - Taudlih juz1 hal. 4

Mukhtashor Jiddan hal. 3

 

Penulis :

Ust. Badrus Sholeh

Editor :

Ust. Bilal

Layouter :

BarArt


Comments

Popular posts from this blog

MENGUMPULKAN NIAT PUASA RAMADAN PADA MALAM PERTAMA

 MENGUMPULKAN NIAT PUASA RAMADAN PADA MALAM PERTAMA Pertanyaan: Bagaimana hukum mengumpulkan niat puasa Ramadan sebulan penuh pada malam pertama?  JAWABAN: Hukum niat puasa sebulan penuh pada malam pertama bulan ramadan adalah sunnah. Sedangkan hukum niat puasa setelah hari pertama, ulama berbeda pendapat: 1. Menurut madzhab syafi'iyah niat puasa untuk sebulan penuh hanya cukup untuk puasa satu hari, sehingga setiap puasa pada bulan Ramadan wajib diniati. 2. Sedangkan menurut imam Malik niat puasa Ramadan untuk sebulan penuh sudah mencukupi, sehingga untuk hari-hari berikutnya tidak wajib niat kembali. Seperti penjelasan yang terdapat dalam kitab attaqrirat assadidah halaman 440. Referensi :  التقريرات السديدة في مسائل المفيدة ص : 440 وتجب النية لكل يوم لأن كل يوم عبادة مستقلة ولا تكفي نية واحدة لكل الشهر على المعتمد ولكن تسن, وفيها فائدتان : الأولى صحة صوم يوم نسي تبييت النية فيه على مذهب الإمام مالك, والثانية أخذه الأجر كاملا لو مات قبل تمام الشهرا عتبارا بنيته. ...

PUISI

Jeritan Haluan Kiri Oleh : Sholahul Amal SEANDAINYA ,,, Fanatik setingkat buta Kata pembodohan terdengar di mana-mana Mengkritik dinilai kekirian  Patuh konstitusi disebut sayap kanan Di era baru... Apa mau mu ?!!!!! Padahal komunis sudah hidup sengsara Ideologi nya hilang entah kemana Negara sudah tidak mungkin di tata secara fasis Warga tidak lagi diperlakukan dengan bengis Ide-ide bebas sekian lama tidak disuarakan  Gerakan reformasi terbungkam ketakutan Tapi mengapa fitnah komunis masih berkoar ??? Suka menuduh komunis pada lawan yang tidak sepemikiran Menilai sama antara komunis dan atheis Mengaku agamis,,,kelakuannya menduakan tuhan Dasar !!! wajah agamis bernafaskan atheis.* Persimpangan kiri jalan, 18 september 2021 Sang Cipta Benih Oleh: Mula Ragil Apa kabar kau dengan tunasmu Sudah besar berkembang Atau mulai goyah  Tertawan udara kepung wilayah ................ Kuatlah kau akar Kokohlah sang dahan Jangkaulah sorga kau ranting Tebarlah harap indah kau daun Moga ...

MENGIKUTI IMAM YANG LUPA ROKAAT SHOLAT

Pertanyaan : bagaimana tindakan yang benar bagi makmum, ketika mendapati imam menambah rakaat? Jawaban : Apabila makmum mendapati imam menambah raka'at dalam shalat, maka tidak boleh baginya mengikuti raka’at yang ditambah oleh  imam, dan hal tersebut bisa menyebabkan shalatnya batal. Karena dianggap bermain-main dalam shalat.  Akan tetapi, jika makmum tidak  sadar bahwa imam telah menambah rakaat, lalu dia mengikutinya, maka hukum sholatnya tidak batal.  Referensi: فرع) لو قام إمامه لزيادة، كخامسة، ولو سهوا، لم يجز له متابعته، ولو مسبوقا أو شاكا في ركعة، بل يفارقه، ويسلم، أو ينتظره - على المعتمد -. [البكري الدمياطي، إعانة الطالبين على حل ألفاظ فتح المعين، ٥٠/٢] (قوله: لو قام إمامه لزيادة) أي على صلاته. (قوله:كخامسة) تمثيل للزيادة. (قوله: ولو سهوا) أي ولو قام حال كونه ساهيا بأن صلاته قد كملت. (قوله: لم يجز له متابعته) أي لم يجز للمأموم أن يتابعه في الركعة الزائدة، فإن تابعه بطلت صلاته لتلاعبه، ومحله إن كان المأموم عالما بالزيادة، فإن كان جاهلا بها وتابعه فيها لم تبطل...