Skip to main content

Jamaah, oh jamaah

 

     Di kalangan nahdliyin tidak asing lagi dengan kata jamaah, terutama di kalangan para santri. Di setiap sudut Pondok Pesantren,  jamaah sudah menjadi kegiatan sehari-hari bagi Kang Santri terutama dalam sholat. Jamaah menjadi wasilah penggalangan pahala dan juga sebagai sarana agar santri selalu bekerja sama dan kompak dalam mengerjakan hal-hal lain sebagai wujud pengejawantahan jamaah dalam sholat. Walaupun ada sebagian kalangan yang menganggap jamaah sebagai hal yang remeh, entah karena mereka masih berfikir banyak hal penting yang mampu mengalahkan keutamaan berjamaah. Namun kami dalam ulasan kali ini bukan  membahas hal yang demikian. Disini kami hendak membahas perihal problematika mengenai  jamaah yang terjadi di kalangan para santri. 

     Jamaah yang terjalin antara makmum dan imam, menuntut seorang makmum untuk mengikuti sholat sang imam. Namun, terkadang muncul suatu masalah dimana Kang Santri merasa tidak nyaman ketika bermakmum pada seorang imam yang dalam pelaksanaan sholatnya tidak secara serius memperhatikan rukun sampai kesunnahan dalam  sholat berjamaah. Seperti kasus dimana seorang imam membaca Al-Fatihah dilanjutkan membaca surat yang panjang, yang dalam hal ini sering memberikan resah pada sebagian makmum. Dalam menyikapi hal ini, ulama’ memberikan pandangan bahwa dalam memanjangkan sebuah surat masih ada beberapa ketentuan. Karena hal ini pernah terjadi di zaman Rasulullah :

البيان في مذهب الإمام الشافعي (ج:2 ص: 383 دار المنهاج(

ويستحب له أن يخفِّف في القراءة والأذكار،؛ لقوله - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «إذا صلَّى أحدكم بالناس.. فليخفف، فإن فيهم السقيم، والضعيف، وذا الحاجة، فإذا صلَّى لنفسه.. فليطول ما شاء»

Disunnahkan bagi imam agar meringankan bacaannya baik itu qiraah (bacaan surat) atau dzikir karena sabda dari Rasulullah SAW. : ”Ketika salah satu di antara kalian sholat berjamaah bersama suatu golongan manusia, maka ringankanlah bacaan kalian karena pada golongan tersebut ada orang yang sakit, lemah, dan mempunyai hajat, namun jika kalian sholat sendirian maka panjangkanlah bacaan sesuai keinginan kalian”.

Dari sini bisa disimpulkan bahwa yang disunnahkan adalah membaca surah-surah yang ringan ketika sholat berjamaah karena dalam golongan makmum bisa jadi ada orang yang sedang sakit, lemah atau sedang ada kebutuhan. Maka dengan memandang hadits ini ketika seorang imam memanjangkan bacaannya menimbulkan hukum makruh :

فتح الوهاب بشرح منهج الطلاب (ج:70 دار العلم سورابايا(

وكره تطويل لا إن رضوا محصورين ولو أحس في ركوع أو تشهد آخر بداخل سن انتظاره لله إن لم يبالغ ولم يميز وإلا كره وسن إعادتها مع غير في الوقت بنية فرض والفرض الأولى ورخص تركها بعذر.

Dimakruhkan bagi imam memanjangkan bacaan sholat berjamaah, namun tidak makruh jika makmum rela ketika imam ingin memanjangkan bacaan tersebut.

Memandang ibaroh ini bisa kita pahami bahwa memanjangkan qiraah itu hukumnya makruh, tapi masih ada sebuah keadaan yang memperbolehkan seorang imam untuk memanjangkan qiraahnya, yakni ketika imam paham bahwa makmum rela dengan imam tersebut. Hal ini juga diperjelas oleh salah satu ulama’ dalam kitab Hasyiyat Al-Jamal :

حاشية الجمل على شرح المنهج ,فتوحات الوهاب بتوضيح شرح منهج الطلاب (ج:1 ص:507 دار الفكر(

(قَوْلُهُ لَا إنْ رَضُوا) أَيْ لَفْظًا أَوْ سُكُوتًا مَعَ عِلْمِهِ بِرِضَاهُمْ فِيمَا يَظْهَرُ اهـ. شَرْحُ م ر، وَلَوْ رَضُوا إلَّا وَاحِدًا أَوْ اثْنَيْنِ فَأَفْتَى ابْنُ الصَّلَاحِ بِأَنَّهُ إنْ قَلَّ حُضُورُهُ خَفَّفَ، وَإِنْ كَثُرَ حُضُورُهُ طَوَّلَ قَالَ فِي الْمَجْمُوعِ، وَهُوَ حَسَنٌ مُتَعَيِّنٌ، وَخَالَفَهُمَا السُّبْكِيُّ اهـ. ز ي.

Kerelaan makmum pada imam yang memanjangkan qiraah bisa dalam wujud perkataan atau diam dengan catatan imam bisa memahami kerelaan si makmum tersebut. Seandainya makmum yang rela hanya satu atau dua orang maka imam Ibnu Sholah berfatwa : “Jika makmum yang ridlo sedikit maka qiraah imam diringankan, jika makmum yang ridlo banyak maka bacaan imam dipanjangkan”.

     Dalam ulasan ini, kita bisa sedikit melihat titik terang dalam menanggapi problematika santri yang sudah kita sebutkan sebelumnya. Ketentuan imam dalam membaca surat yang panjang masih memperhatikan kerelaan makmum baik berupa ucapan atau diam yang bisa dipahami oleh si imam. Maka hendaknya bagi seorang imam jika memang ingin memanjangkan qiraah, setidaknya dia harus memahami keadaan makmum terlebih dahulu.


Disusun oleh :

Perumus : Ust. Faiqul Umam

                    Ust. Ilyas Nahrawi

                    Ust. Fiddin Supriadi

                    Ust. Wildanus Sholihin

                   Ust. Ubaidillah At-Tamimi

                   Ust. Taufiq Hidayat

                   Ust. Mu'tasim Billah

                     & Seluruh Tim LBM PP. Zainul Hasanain

Penulis   : Ust. Ilzamul Haqqi

Editor.    : Ust. Bilal

Layouter : BarArt

                    

Comments

Popular posts from this blog

MENGUMPULKAN NIAT PUASA RAMADAN PADA MALAM PERTAMA

 MENGUMPULKAN NIAT PUASA RAMADAN PADA MALAM PERTAMA Pertanyaan: Bagaimana hukum mengumpulkan niat puasa Ramadan sebulan penuh pada malam pertama?  JAWABAN: Hukum niat puasa sebulan penuh pada malam pertama bulan ramadan adalah sunnah. Sedangkan hukum niat puasa setelah hari pertama, ulama berbeda pendapat: 1. Menurut madzhab syafi'iyah niat puasa untuk sebulan penuh hanya cukup untuk puasa satu hari, sehingga setiap puasa pada bulan Ramadan wajib diniati. 2. Sedangkan menurut imam Malik niat puasa Ramadan untuk sebulan penuh sudah mencukupi, sehingga untuk hari-hari berikutnya tidak wajib niat kembali. Seperti penjelasan yang terdapat dalam kitab attaqrirat assadidah halaman 440. Referensi :  التقريرات السديدة في مسائل المفيدة ص : 440 وتجب النية لكل يوم لأن كل يوم عبادة مستقلة ولا تكفي نية واحدة لكل الشهر على المعتمد ولكن تسن, وفيها فائدتان : الأولى صحة صوم يوم نسي تبييت النية فيه على مذهب الإمام مالك, والثانية أخذه الأجر كاملا لو مات قبل تمام الشهرا عتبارا بنيته. ...

PUISI

Jeritan Haluan Kiri Oleh : Sholahul Amal SEANDAINYA ,,, Fanatik setingkat buta Kata pembodohan terdengar di mana-mana Mengkritik dinilai kekirian  Patuh konstitusi disebut sayap kanan Di era baru... Apa mau mu ?!!!!! Padahal komunis sudah hidup sengsara Ideologi nya hilang entah kemana Negara sudah tidak mungkin di tata secara fasis Warga tidak lagi diperlakukan dengan bengis Ide-ide bebas sekian lama tidak disuarakan  Gerakan reformasi terbungkam ketakutan Tapi mengapa fitnah komunis masih berkoar ??? Suka menuduh komunis pada lawan yang tidak sepemikiran Menilai sama antara komunis dan atheis Mengaku agamis,,,kelakuannya menduakan tuhan Dasar !!! wajah agamis bernafaskan atheis.* Persimpangan kiri jalan, 18 september 2021 Sang Cipta Benih Oleh: Mula Ragil Apa kabar kau dengan tunasmu Sudah besar berkembang Atau mulai goyah  Tertawan udara kepung wilayah ................ Kuatlah kau akar Kokohlah sang dahan Jangkaulah sorga kau ranting Tebarlah harap indah kau daun Moga ...

MENGIKUTI IMAM YANG LUPA ROKAAT SHOLAT

Pertanyaan : bagaimana tindakan yang benar bagi makmum, ketika mendapati imam menambah rakaat? Jawaban : Apabila makmum mendapati imam menambah raka'at dalam shalat, maka tidak boleh baginya mengikuti raka’at yang ditambah oleh  imam, dan hal tersebut bisa menyebabkan shalatnya batal. Karena dianggap bermain-main dalam shalat.  Akan tetapi, jika makmum tidak  sadar bahwa imam telah menambah rakaat, lalu dia mengikutinya, maka hukum sholatnya tidak batal.  Referensi: فرع) لو قام إمامه لزيادة، كخامسة، ولو سهوا، لم يجز له متابعته، ولو مسبوقا أو شاكا في ركعة، بل يفارقه، ويسلم، أو ينتظره - على المعتمد -. [البكري الدمياطي، إعانة الطالبين على حل ألفاظ فتح المعين، ٥٠/٢] (قوله: لو قام إمامه لزيادة) أي على صلاته. (قوله:كخامسة) تمثيل للزيادة. (قوله: ولو سهوا) أي ولو قام حال كونه ساهيا بأن صلاته قد كملت. (قوله: لم يجز له متابعته) أي لم يجز للمأموم أن يتابعه في الركعة الزائدة، فإن تابعه بطلت صلاته لتلاعبه، ومحله إن كان المأموم عالما بالزيادة، فإن كان جاهلا بها وتابعه فيها لم تبطل...