REKREASI MERUPAKAN KUNCI UTAMA KEBERHASILAN SEORANG SANTRI DALAM MENUNTUT ILMU
Kata مسافر (Musaafir) adalah Isim Fa'il dari Fi'il Madli سافر(Saafaro) dengan tiga huruf asal yang mendapat tambahan satu huruf (فعل ثلاثي مزيد رباعي). Sedangkan tiga huruf asalnya dengan tanpa tambahan (ثلاثي مجرد) adalah س-ف-ر(Safaro = Fi'il Madli dan Safarun = Masdar).
Arti kata مسافر dan سفر adalah sebagaimana keterangan berikut yang termaktub di dalam karya Imam Fakhruddin Ar-Razy:
#تفسير الرازي ج:٥ ص:٢٤٤#
قال الأزهري:وسمي المسافر لكشف قناع الكن عن وجهه وبروزه لأرض الفضاء وسمي السفر سفرا لأنه يسفر عن وجوه المسافرين وأخلاقهم ويظهر ما كان خافيا منهم.
Artinya: Imam Al-Azhari berkata : "(Penamaan Orang yang berekreasi) dengan nama مسافر karena Ia membuka penutup rumahnya (topeng) dari wajahnya dan menampakkan diri ke hamparan bumi yang lapang dan alasan dari penamaan perjalanan yg di tempuh dengan nama سفر(Safar) adalah karena wajah, akhlaq (keadaan dan prilaku) dan sesuatu yang tersembunyi di dalam dirinya akan terbuka dan tampak".
Rekreasi ada dua macam:
1.Rekreasi dengan anggota badan (lahiriyah) yakni berpindah dari satu tempat (rumah, tempat tinggal dll)ke tempat yang lain(Pondok Pesantren misalnya).
2.Rekreasi dengan hati dan akal (bathiniyah) yakni perjalanan hati dari tempat yang hina dan rendah menuju ke tempat nan tinggi. Sebagaimana yang telah disampaikan oleh Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali di dalam kitabnya :
#إحياء علوم الدين ج:٢ ص:٢٤٤#
ﻭالسفر سفران سفر ﺑﻈﺎﻫﺮ اﻟﺒﺪﻥ ﻋﻦ اﻟﻤﺴﺘﻘﺮ ﻭاﻟﻮﻃﻦ ﺇﻟﻰ اﻟﺼﺤﺎﺭﻯ ﻭاﻟﻔﻠﻮاﺕ وسفر ﺑﺴﻴﺮ اﻟﻘﻠﺐ ﻋﻦ ﺃﺳﻔﻞ اﻟﺴﺎﻓﻠﻴﻦ ﺇﻟﻰ ﻣﻠﻜﻮﺕ اﻟﺴﻤﻮاﺕ
وأشرف السفرين اﻟﺴﻔﺮ الباطن.
Artinya : "Rekreasi ada dua macam : Pertama perjalanan dengan anggota badan dari tempat tinggal atau tanah kelahiran menuju ke Padang Sahara (bumi lapang nan luas). Kedua rekreasi dengan hati (jiwa) dari tempat yang hina menuju ke alam para malaikat (tempat nan tinggi), sedangkan rekreasi yang paling mulia adalah rekreasi hati (jiwa)". (Ihya' Ulumuddin, Juz. 2, hal. 244). Sebab dengan perjalanan hati seseorang akan mendapati kesenangan dan kebahagian bagaikan berada di surga yang lebarnya setara langit dan bumi, hatinya mengelilingi surga namun raga berada di tanah kelahiran yang ia tempati. Dengan berekreasi seseorang bisa lari dari kenyataan pahit atau menggapai sesuatu yang dicari, contoh : meninggalkan kawasan zona merah Covid-19, berpindah dari satu tempat ke tempat lain demi menggapai cita-cita: Ingin kaya, terhormat, mencari follower, menuntut ilmu dan beramal.
Hanya dengan berekreasi pelajar ataupun santri bisa menggapai cita-citanya, hal ini telah dicontohkan oleh para sahabat nabi dan para ulama terdahulu. Sebagaimana penjelasan Imam Al-Ghazali dalam kitabnya :
#إحياء علوم الدين ج:٢ ص:٢٤٦#
ﻭﻛﺎﻥ ﺳﻌﻴﺪ ﺑﻦ اﻟﻤﺴﻴﺐيسافر الأيام ﻓﻲ ﻃﻠﺐ اﻟﺤﺪﻳﺚ اﻟﻮاﺣﺪ...
ﻭﺭﺣﻞ ﺟﺎﺑﺮ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ اﻟﻠﻪ ﻣﻦ اﻟﻤﺪﻳﻨﺔ ﺇﻟﻰ ﻣﺼﺮ ﻣﻊ ﻋﺸﺮﺓ ﻣﻦ اﻟﺼﺤﺎﺑﺔ ﻓﺴﺎﺭﻭا ﺷﻬﺮا ﻓﻲ ﺣﺪﻳﺚ ﺑﻠﻐﻬﻢ ﻋﻦ ﻋﺒﺪ اﻟﻠﻪ ﺃﻧﻴﺲ اﻷﻧﺼﺎﺭﻱ ﻳﺤﺪﺙ ﺑﻪ ﻋﻦ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺣﺘﻰ ﺳﻤﻌﻮﻩ.
Artinya : "Sa'id bin Al-Musayyab berekreasi selama beberapa hari (hanya) demi satu Hadits. Dan pernah suatu ketika Jabir bin Abdillah beserta sepuluh rombongan berekreasi selama satu bulan lamanya hanya demi mendengar langsung hadits dari Abdullah Anis al-Anshori yang didapat langsung dari Nabi Muhammad Shollallahu 'Alaihi Wasallam".
Begitu pentingnya rekreasi anggota lahir begitu pula dengan rekreasi batin. Sebagaimana keterangan yg tercantum dalam kitab Ihya' Ulumuddin :
#إحياء علوم الدين ج:٢ ص:٢٤٦#
ﻟﻢ ﻳﺤﺼﻞ اﻟﻌﻠﻢ ﺇﻻ ﺑﺎﻟﺴﻔﺮ ﻭﺳﺎﻓﺮ ﻷﺟﻠﻪ ﻭﺃﻣﺎ ﻋﻠﻤﻪ ﺑﻨﻔﺴﻪ ﻭﺃﺧﻼﻗﻪ ﻓﺬﻟﻚ ﺃﻳﻀﺎ ﻣﻬﻢ ﻓﺈﻥ ﻃﺮﻳﻖ اﻵﺧﺮﺓ ﻻ ﻳﻤﻜﻦ ﺳﻠﻮﻛﻬﺎ ﺇﻻ ﺑﺘﺤﺴﻴﻦ اﻟﺨﻠﻖ ﻭﺗﻬﺬﻳﺒﻪ ﻭﻣﻦ ﻻ ﻳﻄﻠﻊ ﻋﻠﻰ ﺃﺳﺮاﺭ ﺑﺎﻃﻨﻪ ﻭﺧﺒﺎﺋﺚ ﺻﻔﺎﺗﻪ ﻻ ﻳﻘﺪﺭ ﻋﻠﻰ ﺗﻄﻬﻴﺮ اﻟﻘﻠﺐ ﻣﻨﻬﺎ
ﻭﺇﻧﻤﺎ اﻟﺴﻔﺮ ﻫﻮ اﻟﺬﻱ ﻳﺴﻔﺮ ﻋﻦ ﺃﺧﻼﻕ اﻟﺮﺟﺎﻝ.
Artinya: "Ilmu tidak akan bisa di gapai kecuali dengan melakukan perjalanan yang bertujuan untuk menuntut ilmu. Begitu juga penting dalam membantu keberhasilan pelajar ataupun santri agar berhasil dalam belajar adalah tahu diri dan paham akan akhlaknya, sebab jalan menuju akhirat hanya bisa di tempuh dengan memperbaiki akhlak dan membersihkannya. Barang siapa yang tidak mampu melihat rahasia-rahasia batin dan sifat-sifat kotor yang berada di dalam dirinya. Maka Ia tidak akan mampu membersihkan sifat-sifat jelek yang sudah bersarang dalam hatinya.
Sebaiknya bagi pelajar ataupun santri terlebih dahulu memperbaiki akhlak dan membersihkan penyakit-penyakit hati dalam menjalani proses belajar-mengajarnya, supaya bisa mencerna ilmu, menghafalkan dan menerapkan di kehidupan nyata. Sebagaimana penjelasan Imam Nawawi dalam kitabnya :
#المجموع شرح المهذب ج:١ ص:٣٥#
ﻭﻳﻨﺒﻐﻲ ﺃﻥ ﻳﻄﻬﺮ ﻗﻠﺒﻪ ﻣﻦ اﻷﺩﻧﺎﺱ ﻟﻴﺼﻠﺢ ﻟﻘﺒﻮﻝ اﻟﻌﻠﻢ ﻭﺣﻔﻈﻪ ﻭاﺳﺘﺜﻤﺎﺭﻩ: ﻓﻔﻲ اﻟﺼﺤﻴﺤﻴﻦ ﻋﻦ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺇﻥ ﻓﻲ اﻟﺠﺴﺪ ﻣﻀﻐﺔ ﺇﺫا ﺻﻠﺤﺖ ﺻﻠﺢ اﻟﺠﺴﺪ ﻛﻠﻪ ﻭﺇﺫا ﻓﺴﺪﺕ ﻓﺴﺪ اﻟﺠﺴﺪ ﻛﻠﻪ ﺃﻻ ﻭﻫﻲ اﻟﻘﻠﺐ: ﻭﻗﺎﻟﻮا
ﺗﻄﻴﻴﺐ اﻟﻘﻠﺐ ﻟﻠﻌﻠﻢ ﻛﺘﻄﻴﺐ اﻷﺭﺽ ﻟﻠﺰﺭاﻋﺔ.
Artinya : "Sebaiknya bagi para penuntut ilmu adalah membersihkan penyakit-penyakit kotor dalam hatinya agar mudah mencerna ilmu, menghafalkan dan mengaplikasikan di kehidupan nyata. Sebagaimana keterangan yang ada di Hadits Shohih Bukhori dan Muslim : Dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam : "Sesungguhnya didalam Jasad (badan) terdapat segumpal daging, jika bagus segumpal dagingnya (hatinya) maka seluruh anggota badanpun ikut bagus dan jika rusak maka akan rusak pula seluruh anggota badan, ingatlah itu hati !!!". Dan para ulama mengumpamakan pembersihan hati dalam berekreasi ilmu seperti halnya memperbaiki ladang yang hendak di tanami tanaman".
" KERASANLAH DI PONDOK PESANTREN DAN OLAHLAH AKAL DAN HATI BILA INGIN SUKSES "
Penulis : Zainul Haq
Pewarta : Ahmad Fauzi
Badrus Sholeh
Editor. : Bilal
Layouter : BarArt
Comments
Post a Comment